Perjalanan Panjang Sang Pangeran

Daftar Isi

Ini adalah soal cerita yang berkelanjutan. Jawaban di cerita yang satu bisa berpengaruh ke jawaban untuk cerita berikutnya. Siapkanlah kertas dan pensil untuk membantumu berhitung. Baca dan diskusikanlah bersama orang tuamu. Bila ada pertanyaan matematika yang kamu tidak bisa jawab atau takut salah jawab, jangan kuatir. Nikmati saja ceritanya :)

Klik disini untuk melihat jawaban tantangan ini. Bila kamu punya pertanyaan atau saran, silahkan tinggalkan komentar di bawah halaman ini. Terima kasih :)

Kelas: 1
Topik: Penjumlahan, pengurangan, menghitung uang, menghitung waktu (hari)

tantangan-thelongjourney-800px
Tugas dari Raja

Pagi itu baginda Raja memanggil anaknya, Pangeran Gigih. “Anakku, sudah waktunya tahta ini kuwariskan padamu. Sebagai bukti bahwa kau layak menjadi seorang raja, ayah akan memberimu sebuah tugas. Pergilah ke Kerajaan Cahaya dan berilah Ratu Cahaya sebuah hadiah.”

“Baik Ayahanda, apakah yang harus saya bawa dari kerajaan kita sebagai hadiah?” tanya sang pangeran.

Raja hanya menggeleng. “Tidak, kau tidak boleh membawa uang atau benda apapun selain pedangmu dan sedikit bekal makanan dan pakaian. Carilah hadiah yang ingin kau berikan dalam perjalananmu. Kau punya waktu lima belas hari, sampai hari Festival Bunga di Kerajaan Cahaya. Apakah kau sanggup?”

Pangeran Gigih terkesiap, namun dengan cepat meneguhkan hatinya.

“Baik, Paduka Raja. Izinkan saya bersiap-siap dahulu.”

tantangan-thelongjourney-1
Di kaki Gunung Rajawali

Pangeran Gigih memulai perjalanannya menuju Kerajaan Cahaya. Ia memakai pakaian layaknya pengembara biasa dan berangkat saat matahari terbit, berjalan ke arah Gunung Rajawali, sebuah gunung yang memisahkan kedua kerajaan itu. Matahari bersinar cerah, semilir angin gunung menyambutnya dengan senang. Pangeran Gigih tersenyum dan mempercepat langkahnya. Bila ia ingin sampai di seberang gunung sore itu, ia tidak boleh membuang banyak waktu.

Matahari baru saja terbenam ketika Pangeran Gigih sampai di sebuah desa di kaki gunung. Bekal makanannya sudah habis dan ia sangat lelah setelah berjalan seharian. Ia memperhatikan sebuah penginapan dengan warung makan yang ramai dan memutuskan untuk masuk kedalamnya.

“Maaf, bolehkah saya bicara dengan pemilik penginapan?” Pangeran Gigih bertanya kepada seorang wanita yang sedang melayani tamu warung.

“Oh, maksudmu Pak Sabar? Kamu bisa menemuinya di depan kasir.”

Pangeran Gigih mengucapkan terima kasih dan mendatangi Pak Sabar, seorang bapak berbadan tinggi dan bersuara lantang. Pak Sabar mengelap keningnya setelah menyuruh pelayannya mengambil pesanan pelanggan dari dapur.

“Selamat malam pak, kelihatannya warung ini ramai sekali,” kata Pangeran Gigih.

Pak Sabar menghela nafas. “Iya, dua orang pelayan kami sakit dan tidak bisa bertugas malam ini. Tamu di akhir pekan memang agak banyak dari biasanya, kami agak kerepotan dengan pesanan yang datang.”

Pangeran Gigih mengangguk dan mengutarakan maksudnya. “Nama saya Gigih dan saya seorang pengembara. Bila bapak berkenan, saya bisa membantu bapak malam ini. Saya tidak ingin meminta imbalan apapun. Saya hanya minta tolong bapak untuk mengizinkan saya menginap disini sampai besok pagi.”

Pak Sabar terlihat lega dengan tawaran Pangeran Gigih. Ia menerimanya dan menugaskannya untuk mencuci piring dan menyiapkan pesanan di dapur.

Keesokan paginya Pangeran Gigih terbangun setelah tidur dengan lelap. Ketika ia akan pamit pergi, Pak Sabar menyerahkan sekantung koin perak kepadanya.

“Terima kasih atas bantuanmu tadi malam. Ini ada sedikit ongkos untuk membeli bekal perjalananmu.”

Pangeran Gigih berterima kasih dan berangkat menuju pasar. Pak Sabar telah memberinya 15 keping uang perak. Pangeran Gigih membeli bekal makanan sebanyak 4 keping perak dan bergegas melanjutkan perjalanan ke hutan Air Terjun Batua.

Bagaimana pendapatmu?

  • Apakah kamu bisa membantu Pangeran Gigih menghitung sisa uang perak yang ia miliki?
tantangan-thelongjourney-2
Hutan Air Terjun Batua

Hari sudah malam ketika Pangeran Gigih sampai di tepi hutan Air Terjun Batua. Desa terdekat masih dua jam perjalanan dari sana, sedangkan hujan sudah mulai turun. Pangeran Gigih menerobos semak belukar dan masuk berteduh ke dalam sebuah gua. Diterangi cahaya hijau temaram dari lumut-kerlip yang tumbuh di dinding gua, Pangeran Gigih mencari tempat yang enak untuk beristirahat. Tidak disangka, tiba-tiba suara gemuruh datang dari dalam gua.

Seekor naga mengaum kencang dan menghembuskan nafas api ke arahnya. Pangeran Gigih salto ke samping dan menghunus pedangnya. Naga itu kelihatan marah, matanya bersinar merah dan dengan cepat menyerang pangeran dengan rahang terbuka. Pangeran Gigih merunduk dan menyerang balik dengan pedangnya. Mereka bertarung sampai akhirnya Pangeran Gigih melihat sebuah kesempatan emas; ia berbalik dan menusuk mata naga.

Naga itu berputar-putar dan jatuh menghantam lantai gua. Pangeran Gigih terduduk lemas sambil mengatur nafasnya. Mengapa naga ini tiba-tiba menyerangku? Ia bertanya-tanya dalam hati. Sebuah batu bercahaya menarik perhatiannya. Pangeran Gigih mengambil batu merah yang tergeletak disamping tubuh naga. Ternyata itu adalah liontin sebuah kalung tembaga. Pangeran Gigih memakai kalung itu dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju desa terdekat walaupun turun hujan gerimis. Ia menemukan penginapan kecil di desa tersebut dan membayar 8 keping perak untuk sebuah kamar.

Keesokan paginya, kepala desa datang beserta dua pengawalnya ketika Pangeran Gigih sedang sarapan. Pangeran Gigih bangkit berdiri dan memberikan salam. Kepala desa itu memperhatikan kalung batu merah yang ia pakai.

“Jadi benar, kau telah mengalahkan naga itu?” Tanya kepala desa. Pangeran Gigih mengiyakan, berharap ia tidak melakukan kesalahan.

Wajah ketua desa berbinar dan ia tertawa. “Terima kasih anak muda, naga itu telah mencuri batu pusaka dan memakan banyak ternak kami. Kami ini hanya petani dan peternak, tidak satupun dari kami mampu mengalahkannya.”

Pangeran Gigih mengembalikan batu pusaka desa yang ia pakai kepada kepala desa. Sebagai tanda terima kasih, kepala desa memberikan 60 keping perak padanya. Dengan senang hati, Pangeran Gigih pergi ke peternakan kuda terdekat dan membeli seekor kuda seharga 40 keping perak. Ia juga membeli bekal makanan untuk dua hari seharga 8 keping perak. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya.

Bagaimana pendapatmu?

  • Bila kamu melihat temanmu mencuri barang orang lain, apa yang akan kamu lakukan?
  • Bila ada temanmu yang tiba-tiba menyerang dan mengajak berkelahi, sebaiknya apa yang kamu lakukan?
  • Sudah berapa harikah Pangeran Gigih bepergian?
  • Apakah kamu tahu berapa sisa uang Pangeran Gigih sekarang?
tantangan-thelongjourney-3
Panen Jagung

Dua hari kemudian, Pangeran Gigih tiba di sebuah desa di tepi Sungai Lebar. Pagi itu penduduk desa sedang sibuk memanen jagung di kebun-kebun mereka. Ketika seorang pemuda sedang memasang kaitan kereta barang berisi jagung, salah seekor kuda tiba-tiba mengamuk dan berlari melepaskan diri. Pemuda itu terkejut dan berusaha mengejar kudanya, namun ia kalah cepat. Pangeran Gigih membantu pemuda itu naik ke kuda yang ia tunggangi dan memacu kudanya untuk menyusul kuda yang lari. Namun setelah mereka mencari di berbagai tempat, mereka belum dapat menemukan kuda itu. Akhirnya mereka kembali ke kebun jagung.

“Oh tidak, bagaimana kami bisa mengangkut dan menjual jagung-jagung ini ke kota?” Pemuda itu mengeluh sambil mengusap wajahnya. Pangeran Gigih turun dari kudanya dan tersenyum.

“Jangan bersedih, pakai kuda saya dulu saja.”

Pemuda itu mengernyitkan alisnya. “Tapi tenaga kami terbatas, sehingga kemungkinan kami baru akan selesai panen besok sore. Apakah kamu bisa menunggu sampai lusa?”

Pangeran Gigih berpikir sejenak dan lalu mengggeleng. “Tidak apa-apa, apakah kamu masih membutuhkan tenaga tambahan untuk panen? Saya bisa ikut bekerja sembari menunggu.”

Pemuda itu berterima kasih dan menjanjikannya 20 keping perak per hari sebagai upahnya. Malamnya Pangeran Gigih membayar 8 keping perak untuk penginapan dan 4 keping perak untuk makan hari itu. Hari berlalu dengan cepat dan sore hari panen telah selesai. Pangeran Gigih membayar kembali penginapan dan makannya. Keesokan paginya tibalah saatnya Pangeran Gigih pamit pergi.

“Ini, adikku memasak sedikit bekal dan membuatkan sepatu bot untukmu.” Pemuda itu menyerahkan sepasang sepatu yang terlihat kokoh. Pangeran Gigih memandangi sepatu kulitnya yang memang terlihat sobek hasil pertarungannya dengan naga. “Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan.”

“Terima kasih,” kata Pangeran Gigih sambil tersenyum. “Kebaikanmu akan saya ingat selalu.”

Bagaimana pendapatmu?

  • Sudah berapa harikah sejak Pangeran Gigih berangkat dari kerajaan?
  • Berapakah sisa uang Pangeran Gigih?
  • Apakah ia memiliki cukup bekal uang untuk perjalanan selanjutnya?
  • Menurutmu apakah ia akan dapat sampai ke Kerajaan Cahaya dalam waktu yang ditentukan?
  • Apabila kamu melihat orang lain dalam kesulitan, apa yang biasanya kamu lakukan?
tantangan-thelongjourney-4
Di Kota Purnama

Hari sudah larut malam ketika Pangeran Gigih menyebrangi jembatan batu menuju kota Purnama. Jalanan di kota itu sudah sepi, sebagian besar lampu rumah penduduk sudah padam. Pangeran Gigih menguap menahan kantuknya dan menambatkan kudanya di halaman sebuah penginapan. Ia tersenyum dan mengelus-elus kudanya sebelum masuk dan membayar 8 keping perak untuk sebuah kamar.

Keesokan paginya Pangeran Gigih membayar 4 keping perak untuk sarapan dan berniat untuk pergi ke pasar membeli perbekalan. Namun alangkah terkejutnya ia ketika mendapati kudanya sudah tidak ada di halaman penginapan. Ia berlari menuju penerima tamu.

“Maaf, apakah bapak melihat kuda saya?”

Bapak itu menggeleng, “Apakah semalam kamu naik kuda? Saya tidak melihat ada kuda di halaman sejak bangun tidur. Akhir-akhir ini kota ini memang tidak aman, ada bandit yang berkeliaran mencuri barang-barang milik penduduk. Seharusnya semalam kamu bilang bawa kuda, saya punya kandang kuda yang bisa dikunci.”

Walaupun kecewa, Pangeran Gigih mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Tidak ada jalan lain, ia harus kembali mengembara tanpa kendaraan.

“Tidak mungkin,” kata penjual buah di pasar. “Badai sering menerpa Padang Pasir Gobi di malam hari. Kamu butuh teman dan kendaraan untuk menyebranginya.”

Pangeran Gigih membayar buah yang ia beli sebanyak 3 keping perak. Pedangan roti yang ikut mendengar pembicaraan mereka menepuk pundaknya.

“Jangan bersedih, saya dengar Pak Ali si pedagang besar pagi ini akan berangkat melintasi padang pasir itu menuju Kota Tebing Tinggi. Coba kamu tanya apakah kamu bisa ikut menumpang.” Kata pedagang roti.

Pedagang buah mengiyakan. “Perjalanan di padang pasir dengan karavan Pak Ali butuh dua hari, kamu perlu menambah perbekalanmu.”

Pangeran Gigih tersenyum dan menyerahkan 3 keping perak lagi. Setelah itu dia mendatangi toko Pak Ali dan menawarkan diri membantu rombongan karavan.

“Wah, maaf, pekerja saya sudah cukup banyak.” Kata Pak Ali. “Tapi masih ada tempat di karavan saya, kamu bisa membayar 12 keping perak bila ingin menumpang.”

Pangeran Gigih setuju dan bersiap berangkat bersama rombongan.

Bagaimana pendapatmu?

  • Apakah Pangeran Gigih masih memiliki sisa uang?
  • Sudah berapa minggu kah ia bepergian?
  • Apabila barangmu hilang, apa saja yang akan kamu lakukan?
tantangan-thelongjourney-5
Padang Pasir Gobi

Terik sinar matahari memudar seiring datangnya malam di Padang Pasir Gobi. Rombongan Pak Ali segera mendirikan beberapa tenda untuk bermalam. Mereka memilih sebuah ceruk dalam di tebing pasir untuk berlindung dari terpaan badai pasir yang mulai terdengar suaranya. Semua anggota rombongan meringkuk di tenda masing-masing, tidak ada yang berbicara saat badai menghantam bukit-bukit pasir di sekeliling mereka. Saat pagi menjelang, Pangeran Gigih mendapati pasir di sela-sela tenda dan pakaiannya.

“Ayo berangkat sekarang,” kata Pak Ali setelah mereka sarapan. “Perjalanan kita masih panjang.”

Sesaat setelah mereka meninggalkan ceruk itu, tiba-tiba mereka dikepung oleh serombongan bandit.

“Serahkan hartamu!” Pemimpin bandit berkata. Ia memakai topeng dan baju hitam. Para pengawal Pak Ali merapatkan barisan sambil menghunuskan pedang. Perkelahian singkat pun terjadi. Pemimpin bandit itu dengan cepat memukul dan menyingkirkan dua pengawal Pak Ali. Pak Ali berusaha melarikan diri tetapi ia terjatuh. Pemimpin bandit mengangkat pedang lalu mengayunkannya ke bawah.

Tring! Pedang itu menghujam pedang Pangeran Gigih dan patah, terpental ke belakang. Pangeran Gigih menempelkan pedangnya ke leher pemimpin bandit. Sisa pengawal Pak Ali memanfaatkan kelengahan para bandit untuk mengalahkan sisa bandit yang ada.

“Ampun! Kami menyerah!” Seru pemimpin bandit. “Kami tidak akan mencuri lagi.”

Pangeran Gigih menurunkan pedangnya. “Pergilah.”

Para bandit itu langsung kabur. Rombongan Pak Ali melanjutkan perjalanan dengan aman. Pak Ali amat berterima kasih pada Pangeran Gigih. Sesampainya di Kota Tebing Tinggi, ia menjamu makan Pangeran Gigih dan memberinya sebuah kain sutra yang mahal sebelum mereka berpisah.

Bagaimana pendapatmu?

  • Bila Pangeran Gigih berangkat pada tanggal 1, sudah tanggal berapakah sekarang?
  • Berapakah sisa uang Pangeran Gigih?
  • Apabila tabunganmu menipis, apa yang akan kamu lakukan?
  • Apakah kamu punya ilmu bela diri?
  • Apa yang akan kamu lakukan bila ada orang yang menyakiti temanmu?
tantangan-thelongjourney-6
Kota Tebing Tinggi

Karena uangnya tidak cukup untuk membayar penginapan, Pangeran Gigih pergi mencari pekerjaan. Seorang tukang kayu sedang membutuhkan bantuan memotong kayu untuk dijual di pasar.

“Pesanan hari ini sedang banyak. Pak Biru membutuhkan banyak kayu untuk memperbaiki kapalnya.” Tukang kayu menjelaskan. Mereka bekerja seharian, namun tumpukan kayunya masih banyak.

“Bermalamlah disini dulu. Besok kita selesaikan pekerjaannya.” Kata tukang kayu.

Pangeran Gigih menyelesaikan pekerjaannya pada siang hari. Setelah makan siang, tukang kayu memberinya upah sebesar 12 keping perak per hari. Untuk bekal perjalanan selanjutnya, Pangeran Gigih membeli perbekalan sebanyak 8 keping perak. Kemudian ia pergi ke pelabuhan; beberapa kapal memasang ongkos perjalanan di sebuah papan di depan kapal mereka.

Pulau Permata – 25 keping perak

Oh… ternyata uangnya tidak cukup untuk perjalanan menyebrangi laut dengan memakai perahu. Ia baru saja hendak balik ke kota ketika seseorang memanggilnya.

“Anak muda!” Seorang nelayan melambaikan tangannya menyuruhnya mendekat. Pangeran Gigih mendatanginya. “Kau yang bernama Gigih bukan?”

Nelayan itu tersenyum ketika Pangeran Gigih mengiyakan. “Pagi ini aku bertemu Pak Ali di pasar dan ia bercerita banyak tentangmu. Benarkah kau mengalahkan para bandit itu?”

Pangeran Gigih tersipu. “Saya hanya bantu sedikit. Para pengawal Pak Ali lah yang mengusir para bandit.”

“Yah, bagaimanapun kau pasti seorang ahli pedang. Apakah kau mengikuti suatu perguruan?”

Pangeran Gigih mengangkat bahunya. “Tidak juga, saya belajar ke beberapa guru di Kerajaan Bumi. Saat ini saya sedang dalam perjalanan ke Pulau Permata.”

“Oo begitu…” Nelayan itu mengangguk-angguk. “Kebetulan saya akan berlayar menuju Pulau Permata besok pagi. Kau mau ikut saya berlayar?”

“Ah,” Pangeran Gigih tercekat, “tapi tabungan saya belum cukup-”

Pak nelayan tertawa. “Jangan kuatirkan itu… Kau bantu aku menangkap ikan sajalah, itu sudah cukup.”

Dengan senang hati Pangeran Gigih berterima kasih dan menerima ajakan nelayan itu. Ia bermalam di perahu pak nelayan, dan mereka berangkat saat matahari terbit keesokan harinya.

Bagaimana pendapatmu?

  • Tanggal berapa Pangeran Gigih akan berangkat dengan pak nelayan?
  • Berapa uang yang Pangeran Gigih keluarkan hari ini?
  • Berapa sisa tabungannya?
  • Kurang berapakah tabungan Pangeran Gigih untuk ongkos berlayar?
  • Apabila seseorang tanpa disangka memberimu hadiah yang sudah lama kamu inginkan, apa yang kamu lakukan?
  • Bila seseorang menjanjikanmu sesuatu yang kamu inginkan dengan syarat kamu harus kerja keras, apakah kamu akan melakukannya?
  • Menurutmu apakah Pangeran Gigih dan pak nelayan akan tiba dengan selamat?
tantangan-thelongjourney-7
Samudra Biru

Angin dingin mengacak rambut Pangeran Gigih. Ia dan pak nelayan sedang bertukar cerita sambil menikmati teh manis panas setelah seharian bekerja menangkap ikan.

“…lantas ku bilang, ya tentulah itu ikan besar, memang kau kira putri duyung?!”

Pangeran Gigih tertawa mendengar cerita pak nelayan. Pak nelayan sendiri tersenyum geli melihatnya. Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras seperti petasan dan mereka berdiri terkesiap. Malam masih pekat, tidak ada cahaya lain di sekitar mereka yang mendekat. Suara itu terdengar lagi, dan sesuatu tercebur di laut dekat mereka. Pak nelayan terlihat marah.

“Jangan tembak! Kami hanya nelayan kecil!” Ia berteriak dan menarik Pangeran Gigih ke dalam naungan kapal. Pak nelayan mencengkram lengan Pangeran Gigih dan berbisik. “Kalau kau punya barang berharga, sembunyikan di bawah tumpukan ikan sekarang.”

Pangeran Gigih menggeleng, lantas teringat kain sutra pemberian Pak Ali. Ia mendorong tas nya ke bawah jaring berisi tangkapan ikan mereka. “Mereka siapa pak?”

“Bajak laut,” ujar pak nelayan geram. “Biasanya mereka hanya mengincar kapal pesiar mewah atau kapal ikan besar. Jangan kau sok jadi pahlawan melawan mereka. Kalau mereka melemparmu ke laut atau merusak kapal ini, daratan masih terlalu jauh untuk direnangi.”

Bayangan hitam berkelebat dan tiga orang bajak laut loncat dari kapalnya ke kapal pak nelayan. Pak nelayan mendengus kesal.

“Apa maumu? Aku nelayan miskin.”

Pemimpin bajak laut melayangkan pandangannya ke Pangeran Gigih. “Sekarang kau bawa turis asing? Berapa dia bayar kau ke seberang?”

“Hah, turis asing apa?” Seru pak nelayan sambil mencibir. “Dia cuma anak gembel pembantu Pak Ali. Aku minta dia bantu tangkap ikan.”

Kedua kaki tangan bajak laut membongkar barang-barang di kapal. Pemimpin bajak laut tertawa. “Ah, tukang bohong kau. Mana hasil penjualan ikanmu di Tebing Tinggi? Kudengar Pak Ali memborong daganganmu.”

Pak nelayan mencoba menepis bajak laut yang hendak menggeledahnya. “Aku tak bawa, langsung diambil istriku.”

Salah satu bajak laut menemukan sisa uang Pangeran Gigih.

“Cuma ada ini bos,” dia melempar kantong uang itu. Pemimpin bajak laut itu mengintip isinya yang hanya sedikit, wajahnya mengeruh. Tiba-tiba ia melihat sesuatu di antara alat pancing dan memberi isyarat ke anak buahnya. Anak buahnya mengambil pedang milik Pangeran Gigih dan melemparnya ke si bos. “Nah! Ketahuan bohong kan kau? Pedang siapa itu?”

Anak buah bajak laut mendorong pak nelayan dan melayangkan tinjunya. Pangeran Gigih berusaha membantu melerai, tapi bajak laut yang satu lagi malah menyerangnya. Mereka bergumul di atas dek kapal, membuat kapal menjadi oleng. Pangeran Gigih melihat sebuah kesempatan dan dengan cepat ia berputar dan menendang bajak laut itu ke laut. Pak nelayan juga berhasil pendorong bajak laut lainnya ke sudut kapal, tapi gerakan itu membuatnya terhuyung ke depan. Pemimpin bajak laut berteriak marah dan menghunuskan pedang ke arah pak nelayan.

“Berhenti!” Pangeran Gigih berteriak, tangannya terangkat dengan posisi menyerah. “Jangan lukai pak nelayan.” Ia merapat dan membantu pak nelayan berdiri. “Saya mencuri pedang itu dari karavan Pak Ali. Ambil saja, kami tidak punya apa-apa lagi.”

Pemimpin bajak laut melotot, tapi lalu memberi isyarat ke anak buahnya untuk pergi. Dia mencibir ke arah pak nelayan sebelum meninggalkan mereka.

“Kali ini kau selamat.”

Pangeran Gigih membantu pak nelayan mengobati wajahnya yang memar.

“Maaf, saya lupa sembunyikan pedang itu. Karena saya bapak jadi terluka.”

Pak nelayan mendesah. “Tadinya kupikir kau hanya bisa pedang, tapi terus kulihat kau tendang si kurus itu ke laut. Aku cuma bisa bantu sedikit, kalau kau mau kau pasti bisa mengalahkan bos mereka.”

Pangeran Gigih menggeleng. “Kalau saya melakukannya, hari ini mungkin kita bisa mengusir mereka. Tapi besok-besok, kalau bapak melaut sendiri? Mereka bisa melukai bapak dan tak ada yang bisa menolong.”

Pak nelayan hanya memandanginya, lalu tertawa kecil. “Kau pintar juga. Lalu gimana nasib pedangmu? Pedang baguskah itu?”

“Ah, tidak usah dipikirkan.” Pangeran Gigih tersenyum. “Yang penting bapak selamat. Soal pedang nanti saya cari yang baru.”

Bagaimana pendapatmu?

  • Berapakah uang Pangeran Gigih yang ada di kantong?
  • Sudah berapa harikah perjalanan Pangeran Gigih?
  • Mengapa pak nelayan berbohong tentang Pangeran Gigih?
  • Mengapa Pangeran Gigih berbohong tentang pedangnya?
  • Pernahkah kamu berbohong untuk temanmu?
  • Bila kamu jadi Pangeran Gigih, apakah kamu akan berkata jujur?
tantangan-thelongjourney-8
Kota Permata

Kota Permata adalah ibukota Kerajaan Cahaya. Kota itu terkenal karena para pedagang permata dari seluruh negeri berkumpul disana, menjual berbagai permata yang indah dan berwarna-warni. Pasar Kota Permata pagi itu cukup ramai. Dalam waktu setengah hari hasil tangkapan ikan pak nelayan habis terjual. Pak nelayan bersikeras membagi hasil penjualan ikannya sebesar 60 keping perak pada Pangeran Gigih. Mereka berpisah di pasar dan Pangeran Gigih berjalan melihat-lihat toko permata. Dia masih harus membeli hadiah untuk Ratu Cahaya, tapi permata-permata ini mahal sekali.

Karena tidak menemukan ide hadiah yang bisa ia beli, Pangeran Gigih balik mencari penginapan, dan menemukan satu penginapan kecil. Ia membayar 10 keping perak untuk sebuah kamar dan 5 keping perak untuk makan siang. Rupanya harga-harga di kota ini memang agak tinggi. Pangeran Gigih membongkar tas nya dan mencuci pakaian nya yang bau ikan. Ketika ia mengangkat kain sutra pemberian Pak Ali dari cucian dan membentangkannya, ia terpana melihat motif benangnya yang mewah dan dijahit rapi, mengingatkannya pada koleksi gaun ibunya. Pantaskah bila ia memberi kain ini sebagai hadiah buat Ratu?

Pageran Gigih mencuci kain itu sampai wangi dan membawa jemurannya ke halaman belakang penginapan. Anak perempuan pemilik penginapan tertawa kecil melihatnya membawa keranjang jemuran.

“Baru kali ini aku melihat laki-laki mencuci baju.” Perempuan itu meletakkan keranjang jemuran miliknya disamping keranjang Pangeran Gigih. “Namaku Gina, kamu bukan orang sini ya?”

Pangeran Gigih tersenyum dan mengangguk, “Nama saya Gigih. Saya dari Kerajaan Bumi.”

“Wow, jauh sekali.” Gina tertegun melihat kain sutra di keranjang. Dia lalu menatap Pangeran Gigih dengan curiga. “Itu kan kain mahal. Punyamu?”

“Oh, seorang saudagar kaya memberikan kain ini karena saya telah membantunya.” Ujar Pangeran Gigih. “Saya sedang berfikir untuk menghadiahkannya untuk Ratu, sebagai tanda terima kasih telah diterima dengan baik di negeri ini.”

Gina memperhatikannya sejenak, lalu mengulurkan tangannya. “Boleh kulihat?”

Pangeran Gigih memberikan kain itu dan Gina mengukur dengan tangannya. “Ukurannya terlalu kecil untuk baginda Ratu, tapi pas buat tuan Puteri. Aku tahu karena ibuku tukang jahit kerajaan. Sebaiknya kau jahitkan gaun untuk Puteri saja. Besok kan ada Festival Bunga, jadi waktunya cocok untuk memberi hadiah untuknya.”

“Oh, ibumu bisa menjahitkan gaun itu dalam semalam? Berapakah ongkos jahitnya?”

Gina berpikir sejenak. “Memangnya uangmu ada berapa?”

Pangeran Gigih menyebutkan sisa uangnya dan Gina tertawa. “Uangmu masih kurang untuk ongkos jahit baju tuan Puteri. Tapi tak apa, aku ambil yang kamu punya dan kamu nanti bantu-bantu penginapan ini sampai besok. Sepanjang Festival ini tamu kami banyak. Nanti aku bilang ke orang tuaku.”

Bagaimana pendapatmu?

  • Mengapa Gina memandangi Pangeran Gigih dengan curiga ketika melihat kain sutra itu?
  • Berapakah ongkos jahit yang Pangeran Gigih berikan ke Gina?
  • Pernahkah kamu menjahit baju sendiri?
  • Menurutmu bisakah gaun itu selesai besok?
  • Untuk memberi hadiah berupa barang ke orang lain, kamu lebih suka membeli atau membuat sendiri?
  • Apakah kamu pernah menghabiskan tabunganmu untuk membeli hadiah?
  • Bila kamu menerima hadiah, hadiah seperti apa yang lebih kamu sukai?
tantangan-thelongjourney-9
Istana Kerajaan Cahaya

Keesokan harinya Pangeran Gigih bekerja membantu keluarga Gina melayani tamu penginapan. Hari menjelang sore ketika ibu Gina menyelesaikan gaun untuk tuan Puteri. Gaun itu sangat indah, warnanya yang cerah cocok dengan Festival Bunga yang sedang berlangsung. Pangeran Gigih berterima kasih dan pamit untuk pergi ke istana. Ia membersihkan diri dan memakai pakaiannya yang terbaik, pakaian yang selama perjalanan hanya ia bawa dalam tas. Ia tidak membawa pedang penanda khas keluarga Kerajaan Bumi, namun ia harap keluarga Kerajaan Cahaya tetap mau menerimanya.

Puteri Kerajaan Cahaya seorang puteri yang cantik. Ia berjalan dengan anggun, menyambutnya di aula istana. Senyum sang puteri membuat Pangeran Gigih tersenyum balik padanya.

“Aku dengar dari Gina seorang pemuda dari Kerajaan Bumi menginap di penginapannya dan ingin membuatkanku gaun sebagai hadiah. Kamu kah itu?” Tanya sang puteri.

“Eh, iya tuan Puteri.” Pangeran Gigih tergagap, tidak menyangka tuan Puteri sempat berbicara dengan Gina. “Maaf saya hanya bawa satu hadiah untuk tuan Puteri.”

Sang Puteri tertawa dan mengibaskan tangannya. “Jangan kuatir. Belum pernah ada pangeran dari kerajaan lain rela bekerja sebagai rakyat biasa demi membawakan hadiah untuk kami. Kamu pasti lelah. Silahkan beristirahat dulu, nanti malam keluargaku menunggumu di ruang makan.”

Pangeran Gigih sedang berbicara dengan tuan Puteri sembari menunggu jamuan makan malam dimulai ketika pintu ruang makan istana terbuka. Tidak disangka, ibu dan ayah Pangeran Gigih, baginda Raja dan Ratu Kerajaan Bumi memasuki ruangan dengan senyum mengembang. Pangeran Gigih segera berdiri dan memberi salam.

“Selamat datang di Kerajaan Cahaya,” kata Baginda Raja Cahaya yang masuk dari pintu yang lain. Ia mengangguk kepada Pangeran Gigih dengan senang. “Terima kasih atas hadiahnya yang istimewa.”

Pangeran Gigih, Baginda Raja dan Ratu Bumi menyambutnya dengan salam hormat dan duduk di tempat masing masing. Baginda Raja Bumi lantas mengangkat gelasnya. “Mari bersulang untuk persahabatan kedua kerajaan kita. Dan untuk anakku Gigih, penerus tahta Kerajaan Bumi. Ayah bangga padamu, nak.”

Bagaimana pendapatmu?

  • Pernahkah ada orang lain yang bekerja keras untuk membelikanmu sesuatu?
  • Bagian mana yang paling kamu suka dari cerita Pangeran Gigih?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *