Jembatan Batu Tulis

Daftar Isi

Ini adalah soal cerita yang berkelanjutan. Jawaban di cerita yang satu bisa berpengaruh ke jawaban untuk cerita berikutnya. Siapkanlah kertas dan pensil untuk membantumu berhitung. Baca dan diskusikanlah bersama orang tuamu. Bila ada pertanyaan matematika yang kamu tidak bisa jawab atau takut salah jawab, jangan kuatir. Nikmati saja ceritanya :)

Jawaban soal matematika akan diberikan lewat newsletter bulan Maret 2015. Klik disini untuk subscribe newsletter. Bila kamu punya pertanyaan atau saran, silahkan tinggalkan komentar di bawah halaman ini. Terima kasih :)

Kelas: 2
Topik: Mengukur waktu, mengukur berat, perkalian, pembagian, membuat tabel data, menentukan nilai maksimum dan minimum dari tabel data

Hari sudah siang ketika seorang utusan datang menghadap Raja Bumi.

“Baginda Raja, ada situasi darurat di daerah Batu Tulis.” Kata pemuda yang rupanya diutus oleh kepala daerah Batu Tulis. “Hujan besar selama seminggu ini menyebabkan tanah longsor, sehingga jembatan batu tulis ambruk semalam.”

Raja Bumi berdiri. “Ambruk? Apakah ada korban jiwa?”

Utusan itu menggeleng. “Kami belum tahu pasti, Paduka. Saat ini kami sedang mendata penduduk desa sekitar. Kami mohon bantuan dari kerajaan untuk mengatasi bencana ini.”

Raja Bumi mengangguk-angguk dan melihat ke arah Pangeran Gigih yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka dengan seksama. “Pangeran, tolong pimpin utusan kerajaan ke Batu Tulis. Bawa semua perlengkapan dan tenaga yang dibutuhkan.”

“Baik Paduka,” jawab Pangeran Gigih.

Pangeran Gigih membaca daftar barang yang dibawa ke Batu Tulis, lalu memperhatikan pasukan kerajaan mengangkat barang-barang tersebut ke atas karavan.

“Apa bisa semua barang ini diangkut?” tanya Pangeran Gigih ke Patih Kerajaan.

Sang Patih mengangguk. “Kuda-kuda yang menarik karavan ini perlu istirahat sebentar setiap 3 jam perjalanan, yah sekitar 15 menit untuk istirahat.” Patih kemudian berpaling pada pemuda utusan Batu Tulis. “Berapa jamkah perjalanan ke Batu Tulis?”

Pemuda itu tampak mengingat-ingat sejenak. “Saya berangkat tidak lama setelah kejadian tanah longsor, sekitar jam 9 malam. Setiap 6 jam berjalan, saya beristirahat selama 30 menit. Tadi saya sampai disini jam 12 siang.”

“Baik, nanti kami siapkan satu kantong perbekalan setiap kali berhenti,” kata Patih.

Apakah kamu tahu berapa kantong perbekalan yang dibawa Pangeran Gigih?

Semua barang telah dinaikkan ke atas karavan ketika seorang pengawal melapor.

“Maaf Pangeran, saya dapat kabar dari penjaga kandang kuda kalau sedang ada wabah penyakit, kuda-kuda yang bisa dibawa pasukan kita amat terbatas.”

Pangeran Gigih menoleh ke arah Patih. “Apakah kita bisa memakai karavan untuk mengangkut pasukan?”

Patih tampak berpikir sejenak. “Bisa saja Pangeran, tapi satu karavan hanya dapat mengangkat beban sebanyak 500kg.”

Pangeran Gigih lalu memeriksa catatan pasukan yang ikut berangkat.

3 orang tabib
6 orang asisten tabib
2 orang jenderal
6 orang pengawal
20 orang pasukan

“Patih, berikan kuda terbaik pada saya dan 2 orang jenderal ini. Yang lainnya naik karavan saja. Berapa biasanya dihitung berat badan satu orang pasukan kita?” tanya Pangeran Gigih.

“Satu orang kita anggap beratnya 70kg Pangeran,” jawab Patih.

Pangeran Gigih mengangguk.

Apakah kamu tahu berapa karavan yang dipakai untuk mengangkut pasukan Pangeran Gigih?

Sesampainya di daerah Batu Tulis, Pak Wibowo sebagai Kepala Daerah Batu Tulis langsung menyambut Pangeran Gigih. Pak Wibowo mengusap rambutnya yang sudah putih dan memberikan seulas senyum begitu melihat Pangeran Gigih.

“Selamat datang di daerah Batu Tulis,” kata Pak Wibowo. “Kami masih belum dapat data lengkap, namun ini yang sudah bisa kami kumpulkan.”

Pangeran Gigih menerima catatan dari Pak Wibowo.

Daerah Batu Tulis terdiri dari 4 desa, yaitu desa Batu Tulis Barat, desa Batu Tulis Timur, desa Batu Tulis Utara, dan desa Batu Tulis Selatan. Di desa Batu Tulis Barat, ada 34 orang yang terluka dan 12 orang yang hilang dan belum ditemukan. Di desa Batu Tulis Timur, ada 21 orang terluka dan 41 orang yang hilang. Di desa Batu Tulis Utara, ada 48 orang terluka dan 17 orang hilang. Sedangkan di desa Batu Tulis Selatan ada 17 orang terluka dan 39 orang hilang.

“Kami kekurangan tenaga untuk mencari orang yang hilang,” kata Pak Wibowo. “Sedangkan yang terluka juga butuh perhatian khusus, kami jadi bingung harus mengirim tenaga kemana. Selain itu, banyak warga yang kehilangan tempat tinggal, jadi kami mendirikan tenda pengungsian sementara dan mengarahkan mereka kesini.”

“Itu langkah yang baik,” kata Pangeran Gigih. “Saya akan menyiapkan tim untuk membantu Bapak disini.”

Pangeran Gigih menoleh ke arah salah seorang jenderal.

“Jenderal Biru, tolong siapkan tim untuk menangani warga yang terluka. Kirim tenaga tabib kita ke desa yang paling banyak warga terlukanya dulu. Cek kondisi dan lakukan pertolongan pertama, lalu tinggalkan seorang tabib disana dan segera kirim tabib lainnya ke desa berikut. Bila memungkinkan, pindahkan pusat pengobatan kesini.” Kata Pangeran Gigih. “Jenderal Hijau, tolong siapkan tim untuk mencari warga yang hilang. Kirim tenaga pasukan kita ke desa yang paling banyak warga hilangnya dulu. Beritahu saya berapa banyak tambahan pasukan yang diperlukan.”

“Siap, Pangeran!” Seru kedua jenderal itu.

“Saya akan mengirim utusan ke kerajaan untuk tambahan pasukan dan tabib. Apakah Bapak punya daftar barang dan tenaga yang diperlukan?” kata Pangeran Gigih ke Pak Wibowo.

Apakah kamu tahu…

  • Bagaimana mencatat data banyak warga yang terluka ke dalam sebuah tabel?
  • Desa manakah yang pertama didatangi Jenderal Biru?
  • Desa manakah yang terakhir didatangi Jenderal Biru?
  • Bagaimana mencatat data banyak warga yang hilang ke dalam sebuah tabel?
  • Desa manakah yang pertama didatangi Jenderal Hijau?
  • Desa manakah yang terakhir didatangi Jenderal Hijau?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *